|

Rashdul
Qiblat adalah ketentuan waktu di mana bayangan benda yang
terkena sinar matahari menunjuk arah Qiblat. Sebagaimana dalam kalender Menara
Kudus KH. Turaichan ditetapkan tanggal 28/27 Mei dan tanggal 15/16 Juli pada
tiap-tiap tahun sebagai “Yaumu Rashdil
Qiblat”.
Rasydul qiblat tahun 2010 akan
terjadi pada hari Jumat Legi tanggal 28 Mei 2010 jam 16.17.56 WIB. Jadi,
wilayah kepulauan Indonesia yang menggunakan waktu WIB dapat mencocokkan arah
kiblat pada waktu tersebut.
Adapun cara yang harus ditempuh dalam rangka penerapan waktu rashdul
Qiblat adalah : Selengkapnya
| Fatwa tentang Arah Kiblat |
 |
 |
 |
|
Selasa, 23 Maret 2010 06:08 |
|
Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa terkait arah
kiblat sebagai konsekuensi dari pergeseran lempeng bumi. Dalam
konferensi pers di Jakarta, Senin (22/3), MUI menegaskan pergeseran
tersebut tak mempengaruhi arah kiblat. Untuk itu, MUI mengingatkan umat
Islam agar tak perlu bingung dengan arah kiblat. Terlebih, dengan
mengubah bahkan membongkar masjid atau musala agar mengarah ke kiblat.
Konferensi pers
tersebut disampaikan oleh Ketua MUI Drs. H. Nazri Adlani, didampingi
Sekretaris MUI Dr. H Amrullah Ahmad, Wakil Ketua Komisi Fatwa MUI Prof.
Dr. KH Ali Mustafa Yaqub, MA, dan Wakil Sekretaris Komisi Fatwa MUI Drs.
H. Aminudin Yakub, MA.
Diktum Fatwa
Tentang diktum dari fatwa MUI No. 03 Tahun 2010
tentang Kiblat disebutkan, pertama, tentang ketentuan hukum. Dalam
kententuan hukum tersebut disebutkan bahwa: (1) Kiblat bagi orang shalat
dan dapat melihat ka’bah adalah menghadap ke bangunan Ka’bah (ainul
ka’bah). (2) Kiblat bagi orang yang shalat dan tidak dapat melihat
Ka’bah adalah arah Ka’bah (jihat al-Ka’bah). (3). Letak georafis
Indonesia yang berada di bagian timur Ka’bah/Mekkah, maka kiblat umat
Islam Indonesia adalah menghadap kea rah barat.
Kedua, rekomendasi.
MUI merekomendasikan agar bangunan masjid/mushalla di Indonesia
sepanjang kiblatnya menghadap kea rah barat, tidak perlu diubah,
dibongkar, dan sebagainya. (ws) |
Jamaah Masjid Semarang minta pengurus perbaiki arah kiblat
 Masjid Agung
Semarang.(foto:youtube)
SEMARANG –
Terungkapnya kesalahan arah kiblat Masjid Raya Baiturrahman Semarang
tak mempengaruhi jumlah umat Islam untuk mengikuti salat Jumat di tempat
itu siang tadi.
Ratusan umat nampak khusyuk melaksanakan salat Jumatnya. Namun ternyata
banyak di antara mereka belum tahu jika ada sedikit pergeseran arah
kiblat di masjid itu.
"Wah saya malah tahunya dari anda kalau ternyata arah kiblatnya kurang
tepat," jelas Wahyono (36) warga Tlogosari Semarang yang rutin salat
Jumat di Masjid Baiturrahman, Jumat (15/1/2010).
Tapi Wahyono menandaskan karena selama ini dia tak tahu maka dia yakin
salat Jumatnya hari ini sah. Wahyono menyatakan berharap agar Takmir
Masjid segera mengembalikan kiblat ke posisi yang benar.
"Ya karena sudah tahu mungkin Jumat depan saya salat Jumat di Masjid
Agung Jawa Tengah (MAJT)," tukasnya.
Memang arah kiblat MAJT sudah tepat mengarah ke Kakbah. Hal senada
dikatakan oleh Harry Satrio (28) warga Klipang Semarang.
Karyawan perusahaan tambang ini menandaskan kaget mendengar kabar
bergesernya kiblat di hampir semua masjid agung di Jateng.
"Ini harus segera dikembalikan di posisi semula Mas. Supaya salat nya
menjadi sah," kata Harry.
Sampai saat ini belum ada konfirmasi dari Masjid Baiturrahman tentang
bergesernya arah kiblat.
"Jangan sampai terjadi lagi tidak tepatnya kiblat. Ini sangat penting
menyangkut sah tidaknya salat," cetusnya.
Menurut Kasi Pengembangan Kemitraan Umat Bidang Urusan Agama Islam
Kanwil Depag Jateng, Muhammad Syafiq, setelah ditelusuri arah kiblat
masjid Biaturrahman ternyata bergeser 2 derajat nol menit 32,48 detik,
kurang ke selatan dari arah seharusnya. Sehingga bergeser 214 kilometer
drai Kakbah.
Kesalahan ini terkuak saat dilakukan pengukuran ulang dengan menggunakan
alat teodolit oleh Tim Sertifikasi Arah Kiblat Jateng kemarin.
Pengukuran ini baru dilakukan satu kali karena tim ini baru saja
dibentuk oleh Gubernur Jateng Bibit Waluyo.
Syafiq mengatakan masjid yang dibangun pada 26 Januari 1968 dan
diresmikan pada 27 Februari 1969 itu bukan satu-satunya masjid yang arah
kiblatnya salah. Seluruh masjid agung di 35 kabupaten/kota di Jateng
arah kiblatnya salah.
Saat didirikan tahun 1968 penentuan arah kiblat Masjid Raya Baiturahman
dibimbing oleh ahli falak dari Kudus bernama Mbah Kyai Jalil.
Mengapa bisa bergeser dari semestinya? Menurut Syafiq ada beberapa
faktor. Yang pertama adalah memang saat pertama kali dibangun penentuan
kiblat sudah kurang tepat. Faktor yang kedua adalah karena pengaruh
kejadian alam seperti gempa atau semacamnya sehingga posisi tanah
bergeser.
"Tapi pergeseran akibat gempa sangat kecil. Paling hanya bergeser kurang
1 derajad. Apalagi di Semarang tak pernah terjadi gempa besar. Jadi
kemungkinan terbesar adalah salah ukur pada waktu pertama kali
membangun," ungkapnya.
|